Berita Terkini
Tampilkan postingan dengan label EKOBIS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label EKOBIS. Tampilkan semua postingan
11.27
Laba Bersih Bank BUMN
Bank 2012 2011 BRI Rp 18,52 triliun Rp 15 triliun
Mandiri Rp 15,5 triliun Rp 12,2 triliun
BNI Rp 7,1 triliun Rp 5,81 triliun
BTN Rp 1,4 triliun Rp 1,1 triliun
Sumber: Laporan Keuangan Audited 2012 - See more at: http://www.jpnn.com/read/2013/03/01/160590/Bank-BUMN-Panen-Laba-#sthash.DYmOGPQ0.dpuf
Bank BUMN Panen Laba
Written By Unknown on Kamis, 28 Februari 2013 | 11.27
JAKARTA - Kinerja yang moncer kembali dicatat oleh bank-bank pelat merah. Sepanjang tahun lalu, perbankan BUMN membukukan kenaikan laba dan dividen (imbal hasil) yang cukup signifikan. Setidaknya, tiga bank besar seperti BRI, BNI, dan BTN mencatat peningkatan untung lebih dari 20 persen pada laporan keuangan audited 2012.
Direktur Utama BRI Sofyan Basir mengatakan laba bersih BRI sepanjang 2012 meningkat 22,79 persen year on year (yoy) sebesar Rp 18,52 triliun. Lantaran itu, pihaknya pun membagikan imbal hasil yang lebih tinggi tahun ini, mencapai 30 persen dari laba bersih yakni sebesar Rp 5,55 triliun.
Nilai pembagian dividen BRI dalam tiga tahun terakhir mencatat peningkatan. Pada 2010, nilai dividen (earning per share/EPS) sebesar Rp 93,01 per lembar saham, dan naik 31,5 persen pada 2011 yang sebesar Rp 112,28. Sementara perolehan dividen pada 2012 tersebut, terhitung melonjak 84,2 persen year on year (yoy) mencapai Rp 225,232 per lembar sahamnya.
Sofyan menjelaskan, sepanjang tahun lalu pihaknya menggenjot performa korporasi lantaran banyak BUMN yang mengalami penurunan laba, khususnya pada perseroan yang berfokus pada sektor komoditas, baik agrobisnis maupun pertambangan. "Sehingga BUMN di jasa keuangan diminta lebih besar (setoran laba)," ungkap Sofyan usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan, di Gedung BRI, Kamis (28/2).
Diungkapkan Sofyan, hasil RUPST BRI menetapkan 14 persen penggunaan laba bersih diperuntukkan dukungan investasi atau sebesar Rp 2,59 triliun. Sementara 56 persen atau sebesar Rp 10,37 triliun digunakan untuk menambah laba ditahan perseroan. "Kami akan tetap fokus pada segmen UKM, di sisi perkreditan maupun penghimpunan dana," jelasnya.
Sementara itu, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) juga mencatat laba bersih sebesar RP 7,1 triliun, atau naik 21 persen yoy. Direktur Utama BNI Gatot M. Suwondo menjelaskan pertumbuhan laba ini tak dapat dipisahkan dari kinerja penyaluran pembiayaan yang mendongkrak pendapatan bunga bersih (net interest margin/NIM). Tercatat, pertumbuhan kredit BNI secara total sebesar 22,8 persen mencapai Rp 200,7 triliun.
Di sisi lain, PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) mencatatkan kenaikan laba bersih sepanjang 2012 sebesar 21,93 persen, dari Rp 1,1 triliun menjadi Rp 1,4 triliun. Direktur Utama BTN Maryono menjelaskan kenaikan laba ini ditopang oleh pendapatan bunga bersih sebesar Rp 4,7 triliun.
Sementara keuntungan dari pendapatan operasional sebesar Rp 1,9 triliun. "Pendapatan ini sudah termasuk yang diperoleh dari fee base income (FBI) sebesar Rp 577 miliar," papar Maryono. (gal)
Direktur Utama BRI Sofyan Basir mengatakan laba bersih BRI sepanjang 2012 meningkat 22,79 persen year on year (yoy) sebesar Rp 18,52 triliun. Lantaran itu, pihaknya pun membagikan imbal hasil yang lebih tinggi tahun ini, mencapai 30 persen dari laba bersih yakni sebesar Rp 5,55 triliun.
Nilai pembagian dividen BRI dalam tiga tahun terakhir mencatat peningkatan. Pada 2010, nilai dividen (earning per share/EPS) sebesar Rp 93,01 per lembar saham, dan naik 31,5 persen pada 2011 yang sebesar Rp 112,28. Sementara perolehan dividen pada 2012 tersebut, terhitung melonjak 84,2 persen year on year (yoy) mencapai Rp 225,232 per lembar sahamnya.
Sofyan menjelaskan, sepanjang tahun lalu pihaknya menggenjot performa korporasi lantaran banyak BUMN yang mengalami penurunan laba, khususnya pada perseroan yang berfokus pada sektor komoditas, baik agrobisnis maupun pertambangan. "Sehingga BUMN di jasa keuangan diminta lebih besar (setoran laba)," ungkap Sofyan usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan, di Gedung BRI, Kamis (28/2).
Diungkapkan Sofyan, hasil RUPST BRI menetapkan 14 persen penggunaan laba bersih diperuntukkan dukungan investasi atau sebesar Rp 2,59 triliun. Sementara 56 persen atau sebesar Rp 10,37 triliun digunakan untuk menambah laba ditahan perseroan. "Kami akan tetap fokus pada segmen UKM, di sisi perkreditan maupun penghimpunan dana," jelasnya.
Sementara itu, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) juga mencatat laba bersih sebesar RP 7,1 triliun, atau naik 21 persen yoy. Direktur Utama BNI Gatot M. Suwondo menjelaskan pertumbuhan laba ini tak dapat dipisahkan dari kinerja penyaluran pembiayaan yang mendongkrak pendapatan bunga bersih (net interest margin/NIM). Tercatat, pertumbuhan kredit BNI secara total sebesar 22,8 persen mencapai Rp 200,7 triliun.
Di sisi lain, PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) mencatatkan kenaikan laba bersih sepanjang 2012 sebesar 21,93 persen, dari Rp 1,1 triliun menjadi Rp 1,4 triliun. Direktur Utama BTN Maryono menjelaskan kenaikan laba ini ditopang oleh pendapatan bunga bersih sebesar Rp 4,7 triliun.
Sementara keuntungan dari pendapatan operasional sebesar Rp 1,9 triliun. "Pendapatan ini sudah termasuk yang diperoleh dari fee base income (FBI) sebesar Rp 577 miliar," papar Maryono. (gal)
Laba Bersih Bank BUMN
Bank 2012 2011 BRI Rp 18,52 triliun Rp 15 triliun
Mandiri Rp 15,5 triliun Rp 12,2 triliun
BNI Rp 7,1 triliun Rp 5,81 triliun
BTN Rp 1,4 triliun Rp 1,1 triliun
Sumber: Laporan Keuangan Audited 2012 - See more at: http://www.jpnn.com/read/2013/03/01/160590/Bank-BUMN-Panen-Laba-#sthash.DYmOGPQ0.dpuf
Label:
EKOBIS
10.33
Waspadai Investasi Bodong
JAKARTA, KOMPAS.com - Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi menegaskan, pihaknya telah mengidentifikasi kasus investasi bodong yang terjadi di Surabaya, Jawa Timur. Ia sudah meminta Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi untuk menangani kasus tersebut.
Bayu menegaskan hal itu di Jakarta, Rabu (27/2/2013), berkaitan dengan pemberitaan di media massa yang menyebutkan sejumlah investor berencana melaporkan manajemen Raihan Jewellery kepada Kepolisian Daerah Jawa Timur karena perusahaan investasi emas ini tidak sesuai dengan janji investasi semula.
Raihan Jewellery menawarkan imbal hasil 3-5 persen per bulan bagi investor yang menanamkan dana untuk investasi emas. Imbal hasil rutin dibayarkan sejak tahun 2010, tetapi berhenti pada Januari 2013. Dana nasabah yang dihimpun diperkirakan mencapai Rp 13,2 triliun untuk total 2,2 ton emas.
Berdasarkan website Raihan Jewellery, kantor cabang di Surabaya berada di lantai 7 Wisma BII, Jalan Pemuda, Surabaya. Ketika Kompas hendak menuju ke kantor tersebut, petugas satpam yang bertugas melarang dengan alasan jam kantor sudah berakhir.
”Saya tidak tahu kantor apa saja di gedung ini yang jelas tidak bisa naik lagi karena jam kantor sudah berakhir,” kata seorang petugas satpam yang menolak menyebut namanya.
Dia juga mengaku belum pernah bertemu dengan orang-orang yang hendak berurusan dengan Raihan Jewellery. ”Di gedung ini banyak kantor, saya enggak hafal perusahaan apa saja,” ujarnya.
Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Syahrul R Sempurnajaya mengatakan, pihaknya telah memiliki satuan tugas pengawasan terhadap semua perusahaan pialang yang ada di Indonesia dan di luar negeri. Satgas tersebut tidak hanya dari Bappebti, tetapi juga melibatkan Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan, Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, dan kepolisian. Satgas dibentuk karena maraknya pengaduan investasi bodong dari masyarakat.
Dia mengatakan, untuk menghindari investasi bodong berkedok kontrak berjangka, masyarakat harus memperhatikan dua hal. Pertama, mengecek status hukum perusahaan yang menawarkan produk investasi, apakah terdaftar di Bappebti atau tidak. Kedua, mengecek jenis kontrak yang ditawarkan, apakah produk tersebut diperdagangkan oleh Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) atau Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (BKDI). Perusahaan pialang juga harus terdaftar sebagai anggota di bursa.
”Sudah banyak perusahaan pialang yang kami bekukan karena menjual investasi yang tidak jelas. Kontrak yang mereka tawarkan sebagian besar berupa emas dan valuta asing. Praktik mereka telah mencoreng kontrak berjangka komoditas di Indonesia,” ujarnya.
Kepala Divisi Riset dan Analisis PT Monex Investindo Futures Ariston Tjendra menyatakan, investasi dengan iming-iming untung besar sering kali malah menghasilkan buntung besar bagi investor. Sebab, dalam praktiknya, investor sering lupa faktor risiko yang melekat di setiap tawaran investasi.
”Tapi, siapa yang tidak ingin mendapatkan penghasilan besar dengan cepat dan mudah? Itulah yang menjadi target para pembuat investasi,” kata Ariston.
Ia menyebut beberapa hal yang harus diperhatikan saat penawaran investasi tiba, antara lain memeriksa legalitas pengelola investasi, memeriksa mekanisme investasi, dan mewaspadai keuntungan tinggi.
Perusahaan yang mempunyai izin mengelola uang publik adalah perusahaan yang memiliki izin usaha sebagai bank, manajer investasi, dan pialang perdagangan berjangka. ”Kita bisa melihat daftar perusahaan tersebut dengan membuka situs web otoritas, yaitu bapepam.go.id, bi.go.id, dan bappebti.go.id,” katanya.
Ariston menyatakan, calon investor wajib memeriksa mekanisme investasi. Ia mencontohkan, apabila berinvestasi di perusahaan pialang berjangka, investor tidak mentransfer uang yang ingin diinvestasikannya ke rekening individu atau perusahaan, tetapi harus ke rekening terpisah (segregated account) yang terdaftar di badan kliring. Dengan menempatkan dana pada rekening terpisah, penyalahgunaan dana nasabah terhindarkan.
Investor jangan rakus
Perencana keuangan dari Safir Senduk & Rekan, Rakhmi Permatasari, dan aktuaria dari Padma Aktuaria, Risza Bambang, di Jakarta, menegaskan, investasi harus dilakukan dengan penuh perhitungan dan pemahaman. Investor juga harus memahami jenis investasinya dengan baik.
Salah satu kesalahan investor adalah terlena oleh tawaran imbal hasil yang sangat besar. Padahal, tawaran imbal hasil besar itu sering kali di luar logika imbal hasil yang wajar. ”Yang membuat investasi tidak wajar biasanya investor yang rakus,” kata mereka.
Rakhmi mengemukakan, investor harus skeptis. Artinya, memahami lebih dulu investasi yang akan dimasuki. ”Kalau ada yang tidak sesuai, investor harus waspada,” ujar dia.
Asumsi imbal hasil 5 persen per bulan, menurut Rakhmi, terlalu besar sehingga investor harus berhati-hati. Kenyataannya, banyak investor yang gelap mata dengan iming-iming imbal hasil sebesar itu. Akibatnya, tanpa berpikir panjang, investor langsung menanamkan modalnya.
Investasi logam mulia, menurut Risza, saat ini memang telah berkembang. Sebelumnya investasi emas berupa logam mulia, batangan, dan koin. Kini, investasi logam mulia bisa dalam bentuk sertifikat kepemilikan yang bisa disimpan dengan mudah.
Sumber : kompas.com
Label:
EKOBIS
10.26
Adu Strategi Jual Roti
Seorang usahawan di DKI Jakarta berkunjung ke Singapura untuk melihat sebuah perusahaan roti, yang baru melepas produk terbaru. Ia terheran-heran melihat betapa panjang antrean untuk membeli roti tersebut. Yang menarik, semua pembeli pulang dengan menenteng kantong plastik penuh roti.
Kembali ke Jakarta, pengusaha ini mengumpulkan beberapa staf ”ring satunya” membahas kemungkinan membuka perusahaan roti dengan rasa dan aroma serupa dengan yang laris manis di Singapura itu. Ia meminta ahli pembuat rotinya untuk mencoba membuat roti tersebut. Setelah percobaan dilakukan sampai delapan kali, usahawan ini puas. ”Rasa dan aroma hampir sama, kita bisa mulai produksi untuk dijual informal kepada pembeli,” tuturnya di Jakarta, pekan lalu.
Ia pun meminta staf pemasaran dan penjualan untuk mengamati pasar. Beberapa di antaranya ia tugasi melihat dari dekat bagaimana cara penjual roti di mal meraih sukses. Ada pula yang mengamati perilaku pembeli, termasuk pola pelayanan di toko-toko roti. Diam-diam beberapa di antara staf tersebut mewawancarai pembeli roti untuk mengetahui seperti apa keinginan atau selera mereka.
Staf yang lain berkeliling pelbagai gerai roti di mal atau pusat belanja untuk meraih inspirasi guna membuat gerai baru yang paling baik atraktif. Para calon pelayan gerai roti dilatih agar bisa tampil menarik. Tidak cemberut kepada pembeli.
Setelah itu, ia menyewa sebuah tempat di sebuah mal yang ramai. Cukup mahal sewa untuk tempat seluas 98 meter persegi di sana. Pengusaha ini sempat kaget, tetapi karena sudah telanjur melangkah, ia tetap percaya diri.
Menjelang gerai dibuka, ia fokus pada strategi panic buying. Usahawan yang bergerak di pertambangan dan ritel ini mengajak teman dekat, keluarga, bahkan staf dari unit usaha lain untuk ramai-ramai antre di gerai roti. Masyarakat pun heboh, dan timbul rasa ingin tahu, seperti apa roti yang baru dilepas ini. Antrean panjang pun terjadi. Mengular hingga 50 meter sampai mendekati pintu masuk mal. Bukan main.
Gaya panic buying ini hanyalah salah satu instrumen membuat produk lebih cepat laku. Akan tetapi, instrumen yang beraroma tipuan ini hanya bumbu penyedap, sebab taktik panic buying tidak bisa dilakukan dalam jangka panjang. Fungsinya hanya bikin heboh, mengejutkan, dan menggedor keinginan belanja masyarakat selama beberapa pekan. Tidak bisa dipakai selamanya.
Hal yang lebih penting dari itu adalah bagaimana membuat roti yang sangat bermutu dan punya diferensiasi. Enak, tanpa pengawet, tapi tidak cepat basi. Harganya pun tak mencekik. Kalau ini semua terpenuhi, lalu ada diskon khusus selama dua bulan penuh, ditambah dengan instrumen panic buying rasanya pengusaha ini akan meraih cash cow baru.
Tahap berikutnya, ia bukan lagi memburu pemilik mal, tetapi pemilik mal yang membujuk dia agar membuka gerainya di mal tersebut. Di sinilah menariknya bisnis.
Akan tetapi, pengusaha tersebut tidak boleh lengah. Ia harus terus mencari terobosan baru untuk membuat rotinya tetap pada peringkat tinggi di mata konsumen. Ia terus memperbaiki mutu layanan, mutu produk, dan mutu stan agar selalu sedap dipandang mata.
Strategi panic buying juga dilakukan sejumlah pebisnis lain, di antaranya properti. Segelintir pengembang masih suka menggunakan kalimat-kalimat seperti, ”Lima hari lagi harga akan naik. Harga pekan lalu Rp 2 miliar. Sekarang Rp 3 miliar. Hanya dalam satu minggu, 90 persen ruko terjual, tersisa delapan ruko lagi.”
Sumber : Kompas.com
Label:
EKOBIS



